FF [ONESHOOT] – Angel of Death

Author           : Ahn Hara

Tittle              : Angel of Death

Genre            : Friendship, Sad, Fantasy

Rate              : Teen +15 years

Length           : Oneshoot

Main Cast       : Nam Woohyun (Infinite) – Park Hyomin (T-ara)

Other Cast    : Jeon Boram (T-ara) – Kim Sungkyu (Infinite) – Park Soyeon (T-ara)

Disclaimer     : FF ini terinspirasi dari Anime Jepang Clannad.

~Happy Reading~

^ Angel of Death ^

 “Jika suatu hari aku pergi meninggalkan dunia ini, aku ingin mereka semua mengingatku. Aku memang bukan gadis populer. Aku hanya yeoja biasa dengan banyak kekurangan. Jadi, aku ingin mereka mengingatku…”

“Kenapa kau ingin mereka semua mengingatmu?”

“Karena aku ingin membuat semua orang di sekolah ini datang ke pemakamanku,”

“Memang kapan kau akan meninggalkan dunia ini?”

“Molla.”

^^

“Woohyun-ah!” panggil seorang namja bermata sipit yang selama ini menjadi sahabatku. Kim Sungkyu. “Kau tahu hari ini akan ada murid baru yang masuk kelas kita. Kudengar dia seorang yeoja.”

“Terus?” tanyaku yang merasa tidak tertarik dengan murid baru itu.

“Kau tidak seperti biasanya. Aku ingin kita mengerjainya!” balas Sungkyu penuh semangat.

“Haruskah?” tanyaku pada Sungkyu. “Sudah ayo masuk!” lanjutku.

“Kau duluan saja!” seru Sungkyu yang sudah menghilang ketika kubalikkan tubuhku.

Aku pun melanjutkan perjalananku menuju kelas di lantai dua. Karena sudah siang, jadi tidak banyak murid di koridor kelas. Hanya beberapa murid saja yang keluar untuk memanggil guru karena kelas mereka kosong.

“Ini untukmu!” seru seorang yeoja sambil memberikan sebuah gantungan kunci dengan bentuk beruang berbahan kain flannel. Sepertinya ini buatan tangan.

“Untuk apa? Aku tidak membutuhkannya,” jawabku kemudian berlalu.

“Ini untukmu.” Yeoja itu tepat di depanku sambil menyodorkan gantungan kunci itu padaku.

“Kau itu yeoja aneh!” seruku sambil berjalan meninggalkannya.

“Aku mohon terimalah…” ucap yeoja itu lagi sambil mencoba berlari mengejarku.

Aku pun berhenti. Dan ia menubruk punggungku. “Apa kau salah satu penggemarku?” tanyaku pada yeoja itu sambil membalikkan tubuhku.

Yeoja itu tersenyum sambil memegang hidungnya yang merah. Tak lama ia menggeleng pelan. “Aku bukan penggemarmu, aku hanya ingin kau menerima ini!” Kembali ia sodorkan gantungan kunci itu padaku.

“Untuk apa?” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Aku hanya ingin kau menerima ini saja.”

“Aku tidak membutuhkannya yeoja aneh!” seruku kesal. “Pergi dariku! Menjauhlah!” lanjutku kesal.

“Baiklah, aku tidak akan memaksa,” ucapnya sambil tersenyum kemudian berbalik dan pergi.

Dasar yeoja aneh. Kenapa di sekolah ini ada banyak yeoja aneh. Selain dia aku ingat ada yeoja berbadan kecil yang selalu duduk di taman dan tidak pernah mengikuti pelajaran. Termasuk semua penggemarku, mereka semua yeoja aneh.

“Nam Woohyun! Kau terlambat masuk kelasku! Cepat duduk aku ingin memperkenalkan murid baru di sini!” seru Park Saem padaku.

Tanpa membalas ucapan Park-saem aku segera duduk di kursiku. Kulihat Sungkyu sudah duduk di sebelahku sambil tersenyum padaku. Aku hanya membalas senyumnya tipis dan duduk di kursi kemudian mulai menenggelamkan kepalaku di atas meja dan kembali melanjutkan tidurku.

*Dugh!*

Sebuah penghapus papan tulis mendarat tepat di kepalaku. Membuatku bangun dari tidurku.

“Nam Woohyun! Keluar kau!” seru Park-saem sambil menunjuk pintu keluar.

Dengan langkah malas aku berdiri kemudian keluar dari kelas. Entah kakiku akan membawaku ke mana. Yang pasti menjauh dari kelas membosankan itu. Ada beberapa kelas kosong di sekolahku. Dan aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku di sana. Namun—

“Kau tidak mengikuti pelajaran?” tanyaku pada yeoja aneh yang kutemui pagi tadi sambil berjalan mendekatinya. Yeoja itu sibuk mengjahit kain flannel berwarna cokelat tua. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku.

“Jika suatu hari aku pergi meninggalkan dunia ini, aku ingin mereka semua mengingatku. Aku memang bukan gadis populer. Aku hanya yeoja biasa dengan banyak kekurangan. Jadi, aku ingin mereka mengingatku…” gumam yeoja itu sambil terus menjahit.

“Kenapa kau ingin mereka semua mengingatmu?” tanyaku sambil duduk di depannya.

“Karena aku ingin membuat semua orang di sekolah ini datang ke pemakamanku,” jawabnya tanpa menatapku.

Mwo? Pemakaman? Apa yang yeoja ini katakan? Aku tidak mengerti!

“Memang kapan kau akan meninggalkan dunia ini?”

“Molla.”

“Lalu kenapa kau ingin semua orang datang ke pemakamanmu?” tanyaku bingung.

“Kenapa kau terus bertanya?” tanyanya kemudian menatapku. Tatapannya berubah kaget dan bingung. “Kau?!” serunya sambil menunjukku dengan jarum yang sedari tadi dipegangnya. “Sejak kapan kau di sini?”

“Sejak tadi. Sedari tadi aku mengajakmu berbicara, kau tidak menyadarinya?” tanyaku sambil menahan tawa karena melihat wajahnya yang berubah bingung.

“Aku sering berbicara sendiri, kupikir kau salah satu temanku,” jawabnya sambil menatap sekeliling kelas yang kosong.

“Aku bukan temanmu, lagi pula aku tidak melihat ada orang lain di sini selain dirimu dan diriku.” Aku ikut mengedarkan pandanganku ke sekeliling kelas kosong yang tidak pernah dipakai lagi.

“Ini untukmu!” seru yeoja itu sambil menyodorkan gantungan kunci berbentuk beruang seperti tadi pagi yang ia berikan.

“Untuk apa?” tanyaku.

Yeoja itu menatapku sambil tersenyum. “Sepertinya kau tahu ini untuk apa.”

“Sudahlah aku tidak akan menerimanya,” balasku kemudian pergi.

“Chakkam!” serunya. Aku pun berhenti kemudian kembali menatapnya. “Aku ingin kau menerimanya, anggap saja ini tiket masuk untuk pemakamanku.”

Aku menatapnya bingung. Rasanya aneh jika ada seorang yeoja yang yakin ia akan meninggal dunia dalam waktu dekat. Dan lebih anehnya ia memintaku untuk menerima gantungan kunci pemberiannya yang akan digunakan sebagai tiket masuk pemakamannya.

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Apa kau waras?” tanyaku bingung.

“Ambillah… Kumohon,” balasnya sambil membungkuk menyodorkan gantungan kunci berbentuk beruang itu padaku.

Aku pun mengambilnya karena tidak tega melihatnya yang terus memohon padaku untuk menerimanya. Yeoja itu tersenyum kemudian ia bertepuk tangan senang.

“Kau orang pertama yang menerimanya!” serunya sambil bertepuk tangan. “Naneun Park Hyomin-imnida. Neo?” tanyanya sambil menunjukku.

“Kau tidak mengenalku?” tanyaku padanya. Yeoja itu bernama Hyomin menggeleng. “Nam Woohyun.”

“Woohyun-ssi, gomawo!” seru Hyomin sambil membungkuk padaku.

“Anio, gwenchana! Aku pergi!” seruku sambil berjalan meninggalkannya.

Aneh. Yeoja itu aneh. Aku merasa ada yang harus diselidiki pada yeoja bernama Park Hyomin itu.

^^

“Ambillah… Aku mohon. Ini untuk salam perkenalanku. Naneun Park Hyomin-imnida.”

Waktu pulang tiba, kubalikkan tubuhku mencari sumber suara. Siapa lagi kalau bukan suara Hyomin yang nyaring itu. Kulihat ia sibuk membagikan gantungan kunci berbentuk beruang itu pada orang-orang yang lewat.

“Ige mwoya? Gantungan kunci atau sampah!” seru seorang yeoja sambil memutar-mutar gantungan kunci dari Hyomin di depan pemiliknya.

“Sepertinya itu lebih mirip sampah!” balas temannya kemudian mereka tertawa.

“Kau membuat ini seharian, kan? Tapi sayangnya ini hanya akan mereka buang!” seru yeoja itu lagi sambil membuang gantungan kunci milik Hyomin tepat ke wajah Hyomin.

“Ayo pergi! Di rumahku sudah banyak sampah. Jika menerima benda jelek itu hanya akan memperbanyak sampah saja!” sambung temannya sambil berjalan meninggalkan Hyomin.

Aku pun mendekati Hyomin yang hanya mematung di tempatnya. Dan tak lama ekspressinya berubah, kembali ia tersenyum menatap setiap orang yang melewatinya dengan tangan yang terus menyodorkan gantungan kunci.

“Sudah sore kau tidak pulang? Sekolah sudah sepi,” tanyaku pada Hyomin yang masih menunggu murid-murid sekolah keluar.

“Aku tidak bisa pulang,” jawab Hyomin sambil menatapku.

“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu!” balasku sambil menarik lengannya.

“Di sini rumahku. Aku tinggal di sini. Di sekolah ini.”

“Jangan membohongiku. Tidak ada yang tinggal di sekolah ini. Arasseo!” seruku dengan nada tinggi.

Hyomin menatapku kemudian mencoba melepaskan genggaman tanganku di lengannya. Namun sayangnya, aku memperkuat genggaman tanganku. Raut wajahnya berubah menjadi kesakitan. Aku pun mulai melepaskannya.

“Woohyun-ah, kau bersama siapa?” tanya Sungkyu yang tiba-tiba datang bersama seorang yeoja disampingnya.

“Aku bersama Park Hyomin. Kau tidak mengenalnya?” tanyaku pada Sungkyu.

“Anio, aku justru baru melihatnya. Apa dia murid baru?” Sungkyu balik bertanya padaku sambil menatap Hyomin yang hanya diam menatap Sungkyu.

“Kau tanyakan saja padanya,” balasku.

“Kau murid baru?” tanya Sungkyu pada Hyomin dengan mata menyelidik.

“Anio, aku murid lama di sini. Mungkin aku tidak populer jadi kau tidak mengenalku.” Hyomin tersenyum pada Sungkyu. “Naneun Park Hyomin-imnida.” Hyomin membungkuk ringan pada Sungkyu.

“Kim Sungkyu,” balas Sungkyu sambil tersenyum. “Oh ya, dia Park Soyeon. Murid baru di kelasku.” Sungkyu mengenalkan yeoja disebelahnya. Jadi, yeoja itu murid baru di kelasku. Maklum saja aku tidak mengetahuinya, itu karena aku tertidur saat dia mengenalkan diri. Kemudian setelah itu aku tidak masuk kelas seharian.

“Annyeong Park Soyeon!” Hyomin membungkuk pada Soyeon yang sedari tadi hanya memperhatikan kami.

Soyeon mengacuhkan sapaan Hyomin kemudian ia menatapku. “Kau Nam Woohyun, kan?” tanya Soyeon padaku.

“Ne, waeyo?” tanyaku bingung.

“Kau mau pulang bersamaku?” tanya Soyeon padaku.

Aku menatap Sungkyu yang terlihat kecewa. Apa Sungkyu menyukai Soyeon? Dan kembali kutatap Hyomin yang terlihat bingung pada sikap Soyeon yang seakan mengacuhkannya.

“Aku pulang bersama Hyomin, kau pulang bersama Sungkyu saja,” jawabku kemudian menarik lengan Hyomin. “Iya, kan?” tanyaku pada Hyomin sambil tersenyum. “Kami pergi!” seruku sambil menggenggam lengan Hyomin dan pergi meninggalkan Sungkyu dan Soyeon.

“Kau mau membawaku ke mana? Rumahku di sekolah,” tanya Hyomin saat kami tiba di halte.

“Aku ingin membawamu pulang. Aku tidak percaya rumahmu di sekolah. Sudah dengarkan aku!” seruku sambil menatap Hyomin lekat. “Kalau kau tidak mau pulang ke rumahmu, kau bisa tinggal di rumahku.”

“Mwo? Kau yakin aku bisa tinggal di rumahmu?” tanya Hyomin sambil membalas tatapanku dengan mata bulatnya.

Aku mengangguk mengiyakan. “Ayo naik!” seruku sambil menggandeng tangan Hyomin masuk bus.

Aneh. Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba aku mengajak yeoja aneh ini ke rumahku. Tapi itu semua kulakukan untuk menghindari Park Soyeon. Karena sepertinya Sungkyu menyukai Soyeon. Sedangkan Soyeon mungkin salah satu penggemarku.

“Ayo masuk!” ajakku pada Hyomin, saat tiba di rumahku. Tidak akan ada eomma di rumah saat aku pulang sekolah. Eomma bekerja di butiknya karena appa sudah meninggal satu tahun lalu.

“Kau tinggal sendiri?” tanya Hyomin saat duduk di sofa ruang tamuku.

“Anio, aku tinggal bersama eommaku.” Aku pun mengambilkan minuman kaleng di kulkas untuk Hyomin.

“Eomma?” tanya Hyomin sambil menatap seisi rumahku. “Kau pasti sangat menyayanginya.”

“Aku tidak pernah bertemu eommaku,” jawabku sambil memberikan minuman kaleng padanya.

“Waeyo?” tanya Hyomin bingung.

“Sudahlah tidak usah dibahas.” Aku tidak menyukai setiap pembicaraan menjurus ke keluarga. Karena aku merasa kehidupanku tidak adil. Appa yang meninggal satu tahun lalu membuat semua berubah.

“Tapi, eommamu tetaplah eommamu. Kau harus bersyukur eommamu masih hidup. Kau tahu keluargaku hanya tinggal appaku seorang. Itu pun appaku tengah berjuang dengan komanya sekarang. Dan satu lagi eommaku sudah meninggal, sebelum dia meninggal ia selalu memukuliku hingga aku lebam dan berdarah.” Hyomin menceritakan tentang kehidupan keluarganya.

Aku terdiam mendengar ceritanya. Kulihat dia mulai menarik napas panjang, sepertinya dia akan melanjutkan ceritanya. “Kenapa kau tidak menangis seperti yeoja lainnya jika mereka sedih?”

Hyomin menatapku. “Karena air mataku sudah tidak bisa keluar. Semua sudah habis saat pemakaman eommaku belum lama ini.”

“Aneh, apa ada yang seperti itu?” tanyaku pada Hyomin.

Hyomin hanya terdiam, kemudian ia berdiri melihat foto keluargaku yang terpajang di dinding ruangan. “Kau terlihat sangat bahagia. Apa kau memiliki saudara?”

“Anio, hanya aku seorang,” jawabku.

“Di mana appamu?” tanya Hyomin.

“Appaku sudah meninggal dunia sejak satu tahun lalu.” Hyomin hanya menganggukkan kepalanya mengerti. “Sebaiknya kau mandi, aku akan memberikan kaos lamaku yang sudah tak muat.”

“Aku yakin eommamu menyayangimu,” ucap Hyomin sambil tersenyum.

“Aku tidak yakin dengan ucapanmu.”

“Seharusnya kau berbaikan dengan eommamu. Aku yakin eommamu sangat mencintaimu. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Apalagi kau hanya anak satu-satunya.” Hyomin kembali duduk. Ia menghela napas berat kemudian menatapku dengan mata bulatnya. “Ingin kuceritakan bagaimana perlakuan eommaku padaku?”

“Sudah cepat mandi!” seruku. Aku tidak ingin membahas tentang eomma lebih panjang lagi. Aku sudah lelah dan ingin segera tidur.

“Aku anggap itu jawaban iya.” Hyomin tersenyum kemudian menatap langit-langit rumahku. “Selama hidup eomma tidak pernah memelukku layaknya anak lainnya. Ia hanya akan terus berteriak meminta ini dan itu. Aku selalu menurutinya dengan senyum dan tidak pernah melawannya. Eommaku juga sering memukuliku, aku dipukul karena kupikir aku salah. Aku juga tidak pernah membenci eommaku, karena setiap perlakuannya padaku bertanda dia memperhatikanku. Hingga akhirnya eomma mengalami kecelakaan, aku yang berada di sisinya saat itu. Sebelum dia meninggal ia mengatakan padaku bahwa dia sangat mencintaiku. Ternyata di rumah dia sudah menyiapkan banyak makanan enak untukku. Satu bulan aku terus menangis setiap malam, karena aku ingin eomma memelukku. Sebelum kau kecewakan eommamu sebaiknya kau berbaikan dan berbuat baik padanya.”

Aku terharu mendengar ceritanya. Setiap kalimat yang ia keluarkan tidak ada kebohongan di dalamnya. Dan lagi-lagi tak kulihat yeoja ini menangis, hanya senyum cerah ia perlihatkan. Tanda ketegaran yang selama ini ia rasakan.

“Bagaimana dengan eommamu?” tanya Hyomin tiba-tiba.

“Eommaku, dia tidak pernah menyapaku setelah kepergian appaku. Selama satu tahun ini dia hanya meninggalkan kebutuhanku di atas meja. Kemudian pergi. Setiap pagi aku tidak pernah bertemu dengannya, dan saat dia pulang aku sudah tidur. Tidak ada saling sapa di rumahku. Dan aku pikir dia membenciku.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Karena appa meninggal karenaku. Appa menyelamatkanku dari kecelakaan. Dan eomma menganggap akulah pembunuhnya.”

“Aku yakin eommamu tidak pernah membencimu. Tunggu dia malam ini hingga pulang. Katakan bahwa kau menyayanginya dan mencintainya. Kau bisa lakukan itu?”

^^

Eomma tidak pulang hari ini. Entah dirinya pergi ke mana. Sudah beberapa kali aku menghubungi ponselnya namun tidak ada jawaban. Butik tempatnya bekerja pun sudah berkali-kali kuhubungi dan jawabannya eommaku sudah pulang sejak siang tadi.

Hyomin sudah tidur di kamar tamu. Sedangkan aku terus menunggu kepulangan eomma. Ada keinginan yang muncul setelah mendengar cerita Hyomin. Aku ingin mengembalikan kedekatanku dengan eomma, yang selama ini tidak pernah kurasakan lagi.

*Cklek*

Aku berdiri dan melihat ke pintu masuk rumahku dan kulihat eomma yang tengah mabuk. Dengan cepat aku memapah eomma ke sofa ruang tamu. Bau alkohol menyeruak tidak sedap menusuk hidung.

“Eomma, gwenchana?” tanyaku pada eomma.

“Aku ingin muntah!” seru eomma. Aku pun mulai berlari mencari kantung kresek untuk eomma.

Setelah puas dengan muntahnya, aku memberikan air mineral untuk eomma minum. Kemudian membiarkannya tertidur di sofa. Kutatap wajahnya yang sudah tak muda lagi. Banyak kerutan di setiap inci wajahnya. Guratan kesedihan dan lelah terpampang jelas di wajahnya. Perlahan kukecup kening eomma. Kemudian aku mulai tertidur di sofa dengan posisi duduk.

^^

Pagi pun datang, entah sudah pukul berapa sekarang. Sinar matahari masuk melalui ventilasi udara. Aneh. Aku berada di kamarku. Siapa yang memindahkanku ke sini? Seingatku aku tertidur di sofa dengan posisi duduk tadi malam.

Tanpa membersihkan tubuh, aku keluar menuju ruang tamu dan mencari eomma. Namun yang kutemukan Hyomin yang sibuk membuat sarapan di dapur.

“Kau belum mandi?” tanya Hyomin bingung.

Aku menggeleng sambil membalas tatapan bingungnya. “Di mana eommaku?”

“Dia sudah pergi, berkali-kali dia membangunkanmu. Katanya dia memberikan salam cintanya untukmu. Oh ya, tadi malam eommamu memindahkanmu ke kamar.”

Eomma? Jadi eomma yang memindahkanku ke kamar? Tapi apa benar eomma? Apa Hyomin tidak berbohong padaku?

“Kenapa melamun, cepat mandi kemudian berangkat sekolah!” seru Hyomin.

Tanpa berlama-lama aku pun bergegas mandi.

^^

“Apa tadi malam benar eommaku yang memindahkanku?” tanyaku pada Hyomin saat perjalanan menuju sekolah.

Hyomin mengangguk. “Tidak malam harinya, tapi ketika dini hari.”

“Kenapa kau tahu?” tanyaku sambil menatap Hyomin bingung.

“Karena aku melihatnya,” jawab Hyomin. “Sudah kubilang eommamu sangat menyayangimu. Kau tahu kan kau berat, tapi eommamu rela memapahmu ke kamarmu.”

Eomma… Mianhae~

^^

Soyeon mendekatiku sambil memberikan sebatang cokelat. Aku hanya bisa berdiri dan mengacuhkannya. Lagi-lagi aku membolos kelas hari ini. Dan langkahku berhenti di kelas yang sama di mana Hyomin asyik dengan kain dan jarumnya.

“Woohyun-ah!” seru Sungkyu tiba-tiba sebelum kumasuki kelas kosong itu.

“Wae?” tanyaku singkat.

“Jangan pernah kau sakiti hati Soyeon. Setelah kau pergi dari kelas tadi ia menangis karena kau mengacuhkannya! Kau tidak boleh bersikap seperti itu padanya!” seru Sungkyu dengan nada tinggi.

“Kau marah? Ambil saja yeoja itu untukmu. Aku tahu kau menyukainya.”

Sungkyu menatapku tajam, namun aku mengacuhkannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sungkyu. Kenapa dia bersikap aneh seperti ini? Tidak seperti Sungkyu yang kukenal selama ini.

“Aku tidak suka kau melakukan seperti itu padanya!” seru Sungkyu kesal. “Sekali lagi kau membuatnya menangis aku tak akan memaafkanmu!” Sungkyu berlalu dengan kepalan tangan di tangannya.

Kembali kutatap kelas kosong tempat Hyomin duduk tadi, tapi sekarang dia menghilang. Ke mana Hyomin? Seingatku dia ada di dalam tadi. Aku pun mulai melangkah masuk, mencari keberadaan Hyomin yang entah di mana.

“Hyomin-ah!” panggilku sambil mencarinya ke sekeliling kelas.

“Kau mencariku?” tanya Hyomin.

“Dari mana kau?” Aku balik bertanya.

“Aku keluar sebentar memberikan beberapa gantungan kunci pada semua murid di sini.” Hyomin tersenyum sambil melihatkan beberapa gantungan kuncinya padaku.

“Hyomin-ah, kau tidak masuk kelas?” tanyaku lagi.

“Aku tidak tahu aku di kelas mana. Jadi, aku hanya berdiam diri di sini sambil membuat gantungan kunci ini.”

“Ayo aku bantu!” seruku.

“Kau tidak masuk kelas?” tanya Hyomin bingung.

“Sudah… Ayo aku bantu!” seruku tanpa menjawab pertanyaan Hyomin.

^^

Hyomin terus berusaha meminta semua murid menerima gantungan kunci buatannya. Aku tidak tinggal diam, aku juga membantunya. Walaupun semua menatapku dengan tatapan bingung ke arahku, aku tidak peduli.

“Sudah habis,” ucapku pada Hyomin.

Yeoja itu hanya menganggukkan kepalanya. “Berarti hanya tinggal beberapa hari lagi,” bisiknya namun aku dengan jelas mendengarnya.

“Apanya yang tinggal beberapa hari lagi?” tanyaku sambil mengerutkan keningku.

Hyomin tak menjawab pertanyaanku kemudian berlalu. Ia kembali menuju kelas kosong. Aku hanya melihatnya dari ambang pintu. Ia mulai merapihkan beberapa peralatan menjahitnya. Menyapu sampah yang berserakan. Dan terakhir ia membuang beberapa gantungan kunci yang gagal saat pembuatan.

“Aku tidak pulang ke rumahmu!” seru Hyomin dari dalam kelas.

“Waeyo?” tanyaku sambil mendekatinya. Ia menatapku kemudian tersenyum. “Apa tidak enak di rumahku?”

Hyomin menggeleng. “Aku hanya ingi merawat appaku yang koma.”

“Aku temani. Kau mau?” tanyaku.

Hyomin menggeleng. “Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagi pula, appa tidak bisa dibesuk sembarang orang. Kecuali keluarganya.”

“Aku temani sampai rumah sakit. Eotte?”

Hyomin menggeleng lagi. “Lanjutkan pelajaranmu untuk hari ini. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih telah menjadi temanku selama ini, Nam Woohyun. Annyeong!” seru Hyomin sambil melambaikan tangannya.

^^

“Woohyun-ah! Woohyun-ah! Woohyun-ah!” seru Sungkyu sambil memukul pipiku.

Kubuka mataku perlahan. Kulihat Sungkyu dan eomma berada di depanku sambil menatapku sedih. Sebenarnya apa yang terjadi kenapa wajah mereka terlihat sedih?

Eomma memelukku erat, kudengar isakannya. Dan air matanya turun membasahi bajuku. Dengan ragu kubalas pelukan eomma. Pelukan yang selama ini kurindukan. Aku menyayangimu eomma, selamanya…

“Apa yang terjadi denganku?” tanyaku pada Sungkyu saat eomma pergi ke toilet.

“Kau tidak ingat?” tanya Sungkyu dengan tatapan bingung. Aku hanya bisa menggeleng tidak tahu. “Kau kecelakaan, untung saja kecelakaan itu tidak merenggut nyawamu.”

“Kecelakaan? Di mana?” tanyaku bingung.

“Kau amnesia? Kenapa bisa tidak ingat?” Sungkyu menempelkan tangannya di keningku. “Kau tidak demam.”

“Aku kecelakaan di mana dan kenapa?” tanyaku serius pada Sungkyu.

“Kau kecelakaan di depan sekolah. Tertabrak bus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Orang-orang sekitar yang melihatmu bilang kau mengejar seorang yeoja.”

“Yeoja?” tanyaku bingung. Aku tidak pernah tertarik pada yeoja mana pun. Apalagi yeoja di sekolah, lalu kenapa aku bisa mengejar yeoja hingga kecelakaan? “Nugu?”

Sungkyu hanya bisa mengangkat bahunya tidak mengerti. “Kau ingat teman baru kita Park Soyeon?” tanya Sungkyu.

Aku mengangguk. Dia murid baru di kelasku. Namun aku tidak terlalu dekat dengannya. Yang kuingat Sungkyu mulai menyukainya. Dan aku pernah menolak pemberian cokelat dari Soyeon.

“Kau tidak marah padaku lagi? Karena aku menolak pemberian Soyeon?” tanyaku.

“Aku sudah melupakannya, karena kecelakaan ini. Lupakan saja!” seru Sungkyu.

Aku masih tidak mengingat siapa yang kukejar dan kenapa aku mengejarnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ingatanku? Tapi aku masih mengingat semua temanku. Apa yang terjadi dengan diriku?

^^

Setelah dua hari tidak masuk sekolah, akhirnya aku kembali ke sekolah. Eomma sudah mau berbicara denganku akibat kecelakaan itu. Aku bersyukur eomma tidak marah padaku. Sekarang eomma selalu membangunkanku dan membuatkan sarapan untukku. Aku tidak mengerti kenapa eomma bisa berubah secepat ini. Kejadian setelah kecelakaan terlihat sangat berbeda.

Sungkyu sibuk berbincang dengan Soyeon, sepertinya mereka mulai dekat. Merasa bosan, aku keluar kelas menuju kelas kosong yang sudah tidak digunakan. Tidak ada siapa pun di sana. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Seperti pernah mengalami hal seperti ini, melihat seseorang yang tengah duduk di kelas kosong itu. Namun aku tidak tahu dia siapa.

Tidak berniat masuk ke dalam kelas, melainkan berjalan menuju sebuah taman belakang sekolah dengan daun yang mulai menguning.

“Woohyun-ssi, apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang yeoja berbadan kecil dengan wajah sedikit bulat dan kulit putih.

“Hanya ingin membolos pelajaran saja,” jawab yeoja kecil itu. “Lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Seperti biasa aku merawat taman ini.” Yeoja kecil itu mulai duduk di sampingku. “Kemana yeoja ceria itu?” tanyanya.

“Yeoja ceria siapa?” tanyaku bingung. Chakkam! Kenapa yeoja kecil ini mengenalku? Apa dia salah satu penggemarku. Tapi aku tidak pernah berkenalan dengannya apalagi sampai berbicara dengannya. Dan apa maksud pertanyaannya yeoja ceria? Siapa yeoja ceria itu? “Kenapa kau mengenalku?”

“Waktu itu kau membantu teman yeojamu membagikan ini.” Yeoja kecil itu mulai mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk beruang berbahan kain flannel. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana?

“Apa aku membagikan barang seperti itu?” tanyaku pada yeoja kecil itu.

“Ne, kau membagikannya pada semua murid di sekolah ini. Kau juga memilikinya!”

“Siapa namamu?”

“Jeon Boram.”

“Aku tidak mengingatnya. Yeoja ceria itu siapa?” tanyaku pada Boram.

“Park Hyomin.”

Park Hyomin. Apa dia benar ada? Kenapa nama itu terdengar tidak aneh di telingaku. Sepertinya aku pernah mengenalnya. Tapi aku tidak bisa membayangkan wajahnya. Apa yang terjadi padaku? Ini semua terlihat aneh.

Tanpa permisi aku pergi menjauh dari Boram, mencari Sungkyu. Siapa tahu dia mengetahui tentang yeoja bernama Park Hyomin itu.

^^

“Park siapa? Park Hyomin? Aku tidak mengenalnya. Apa dia murid baru di sekolah kita?” tanya Sungkyu padaku.

Aku terdiam, kenapa Sungkyu juga tidak mengenal Hyomin? Aneh, aku juga tidak mengenalnya. Tapi kenapa Boram mengatakan aku membantu Hyomin membagikan gantungan kunci itu.

“Kau punya gantungan kunci berbentuk beruang?” tanyaku pada Sungkyu.

Sungkyu terdiam. “Apa ini maksudmu?” tanya Sungkyu sambil memberikan gantungan kunci yang sama seperti milik Boram.

“Kau dapat dari mana?” tanyaku bingung.

“Semua mendapatkannya. Waktu itu ada yang membagikannya secara gratis.”

“Siapa yang membagikannya?” tanyaku penasaran.

Lagi-lagi Sungkyu terdiam. Ia seperti berpikir siapa yang membagikannya. “Aku lupa siapa yang membagikannya. Karena ini sudah cukup lama dibagikan. Kau juga punya, kan?”

Aku mengangguk ragu.

^^

Kucari di setiap lemari kamarku gantungan kunci beruang itu. Dan kutemukan benda itu ada di dalam tasku. Kuperhatikan dengan seksama benda itu. Tidak ada yang terlihat aneh. Tapi—

“Sekarang tanggal berapa?” tanyaku pada diriku sendiri sambil menunjuk kalender di atas meja. “3 Maret.”

^^

“Kau kembali lagi ke sini ternyata!” seru Boram saat menemukanku duduk di kursi taman. “Sedang memikirkan apa?” tanya Boram padaku.

Aku menatapnya bingung. “Yeoja bernama Park Hyomin itu seperti apa dia? Kenapa hanya kau yang mengenalnya? Dan aku tidak mengingatnya!” seruku.

Boram tersenyum, “Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain. Kajja!” seru Boram kemudian menarik lenganku menuju gerbang sekolah.

Soyeon dan Sungkyu mendekatiku kemudian memberikan setangkai bunga lily putih padaku. Dengan wajah bingung aku menerimanya. Kutatap Boram, ia juga sudah menerima bunga lily putih itu.

“Kita mau ke mana?” tanyaku pada Boram.

“Pemakaman,” jawab Sungkyu tanpa menatapku. “Siapkan gantungan kunci berbentuk beruang itu. Pegang bersama bunga lilynya,” lanjut Sungkyu.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku lagi, kali ini pada Sungkyu.

“Yeoja bernama Park Hyomin,” jawab Sungkyu.

“Park Hyomin!” seruku bingung. “Bukannya kau tidak mengenalnya?” tanyaku.

Semua murid mulai berjalan menuju pemakaman, tidak hanya murid tapi juga guru-guru serta petugas kebersihan dan keamanan sekolah. Aku tetap di samping Sungkyu dan Soyeon, tapi di mana Boram? Kenapa dia tidak ikut bersama kami. Dan pertanyaanku pada Sungkyu tidak dijawabnya.

^^

Setetes air mata jatuh dari ujung mataku. Ada perasaan sedih menghinggapiku saat ku menginjakkan kaki ke pemakaman ini. Aku seperti mengenal dekat Hyomin. Tidak hanya aku, tapi semua yang datang ikut menangis. Sebenarnya siapa Hyomin ini? Walau aku tak mampu mengingatnya tapi aku yakin kalau aku pernah dekat dengannya.

Kuberikan setangkai bunga lily pada nisan Hyomin. Aku semakin merasakan kesedihan yang sangat dalam. Dan sebuah ingatan tentang diriku dan Hyomin pun mulai tergambar layaknya film yang tengah diputar.

Dia. Park Hyomin. Yeoja yang terus memintaku untuk menerima gantungan beruangnya. Aku menjadi orang pertama yang menerima gantungan itu. Kuajak dia pulang bersamaku, ia menceritakan tentang appanya yang koma. Dan eommanya yang jahat namun ia tetap menyayanginya. Dan terakhir aku membantunya membagikan banyak gantungan kunci itu pada semua penghuni sekolah.

“Hyomin-ah… Mianhae… Mianhae karena sempat melupakanmu. Semoga kau hidup bahagia di sana.”

^^

Kucari Boram di taman tempat ia biasa di sana. Namun tak kutemukan sosoknya. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“Kau mencariku?” tanya Boram.

Aku mengangguk. “Kenapa kemarin kau tidak datang ke pemakaman Hyomin?” tanyaku pada Boram.

Ia mulai duduk di kursi taman, aku pun mengikutinya. “Kau belum juga paham, padahal dia sudah meninggal kemarin.”

Aku menatap yeoja kecil itu bingung. Apa maksud perkataannya aku tidak mengerti.

“Sekarang kau ingat siapa Hyomin?” tanya Boram padaku.

Aku menganggukkan kepalaku. “Dia yeoja yang selama ini menjadi temanku.”

“Pegang tanganku akan kubawa kau melihat siapa Hyomin sebenarnya.” Aku pun mulai menggenggam jemari kecil Boram.

^^

Seorang yeoja sekitar lima belas tahun dengan rambut terurai panjang dipukuli eommanya dengan sebuah kayu cukup besar. Darah mulai mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.

“Berani kau melanggar eomma, huh!” seru eommanya pada yeoja itu. Lagi-lagi punggung yeoja itu terhantam kayu besar.

Kupalingkan wajahku menatap Boram yang hanya diam menyaksikan. “Siapa dia? Siapa yeoja itu? Kenapa kita tidak membantunya? Kenapa kita hanya melihat?” tanyaku pada Boram.

“Dia Park Hyomin. Kita tidak bisa membantunya, kita hanya sebuah hologram yang dikirim ke masa ini. Kau berteriak pun mereka tidak akan melihatmu.”

Hyomin? Yeoja itu Hyomin? Apa? Hologram? Semacam arwah yang dikirim ke masa ini?

Dengan darah yang terus keluar, Hyomin memaksa tetap berjalan dikegelapan malam. Aku dan Boram mengikutinya dari belakang. Kudengar Hyomin mengeluarkan sebuah kalimat yang tak jelas ditelingaku.

“Aku menyayangimu eomma. Aku menyayangimu. Selamanya akan terus menyayangimu.”

Hyomin terus mengulang kata-kata itu hingga ia sampai di sebuah kedai kecil. Tak ada pelanggan di sana, hanya terlihat seorang namja paruh baya.

“Appa…” panggil Hyomin lemah, appanya mulai berlari memeluk anaknya.

“Sebaiknya kau tidak usah kembali lagi ke rumah eommamu. Hidup bersama appa saja di sini. Jangan ke sana lagi!” seru appanya sambil memeluk anaknya.

“Shireo!” bantah Hyomin pelan. “Eomma membutuhkanku, appa. Aku ingin eomma menjadi eomma yang selama ini kuinginkan. Aku ingin eomma memelukku seperti appa yang selalu memelukku.”

“Hyomin-ah!” seru appanya. “Hanya untuk sebuah pelukan kau rela setiap hari datang ke sana kemudian kembali ke sini dengan darah di tubuhmu, huh!”

“Aku menyayangi eomma…” jawab Hyomin lemah.

“Besok kau tidak boleh ke sana lagi!” seru appanya dengan nada tinggi.

Appanya pergi meninggalkan Hyomin. Yeoja itu mulai menangis kemudian terkulai lemah dan pingsan.

“Pegang tanganku!” seru Boram. Aku pun mulai memegang tangannya.

^^

“Kita ada di mana?” tanyaku pada Boram.

“Kita ada di tiga hari setelah kejadian itu.”

Terlihat appa Hyomin memasuki rumah eomma Hyomin. Aku dan Boram pun ikut masuk ke dalam. Sekarang sepasang suami istri itu tengah berdebat. Aku mengerti sekarang. Orang tua Hyomin telah bercerai, hak asuh Hyomin ada di appanya. Tapi Hyomin memaksa tinggal bersama eommanya. Dan eommanya tidak memperlakukan Hyomin seperti anak sendiri.

“Jangan lakukan kekerasan pada Hyomin!” seru tuan Park pada istrinya.

“Siapa yang suruh anak itu datang padaku? Sudah kubilang urus dia!” balas nyonya Park. “Kau kekurangan uang dengan kedai kecil dan tua itu?”

“Aku sudah memaksanya untuk tidak menemuimu. Karena setiap dia kembali dari rumahmu selalu darah yang kutemukan. Kau melukainya. Sekali pun kau membenciku tetap saja kau tidak patut untuk melukainya. Dia anakmu! Anak yang selama ini kau kandung!”

“Aku tidak berharap dia muncul ke kehidupanku!” seru nyonya Park geram.

“Kau tahu kenapa dia selalu kembali lagi ke sini dan terus kembali ke sini, walaupun dia tahu kau akan melukainya!”

“Aku tidak ingin tahu!”

Tuan Park menatap istrinya geram. “Hanya untuk sebuah pelukan hangat dari seorang eomma. Hanya untuk itu. Hanya untuk pelukanmu, dia rela mengorbankan tubuhnya. Dia hanya ingin kau peluk, dia hanya ingin kau membelainya, menyayanginya!”

Nyonya Park yang sedari tadi berdiri pun jatuh terkulai. Air matanya jatuh. Tuan Park kembali memeluk istrinya dan menenangkannya.

“Aku tahu kau membenciku tapi kumohon tetaplah mencintai Hyomin. Berikanlah pelukanmu untuknya.”

Tiba-tiba Boram memegang jemariku.

^^

“Ini satu hari setelah kemarin,” ucap Boram tanpa menatapku.

Masih di rumah eomma Hyomin. Sekarang ia mulai sibuk dengan masakannya. Ia menyiapkan banyak makanan entah untuk siapa. Semuanya telah tersedia di atas meja makan. Sebelumnya ia menuliskan sebuah surat di atas meja makan. Kemudian ia pergi keluar.

Kami pun megikutinya. Ia menuju sebuah kedai kecil. Itu rumah Hyomin. Nyonya Park hanya terdiam di depan pintu kedai yang belum buka. Ia terlihat bingung untuk mengetuk atau tidak. Tapi akhirnya dia pergi tanpa mengetuk pintu kedai.

Hyomin membuka pintu rumahnya dan dilihatnya eommanya tengah berlari menjauh dari rumahnya. Hyomin mulai berlari mengejar eommanya. Dengan kakinya yang pincang ia terus berlari.

“Eomma! Eomma! Eomma!” panggil Hyomin sambil terus berlari mengejar eommanya.

Tidak hanya Hyomin dan eommanya yang berlari. Aku dan Boram juga ikut berlari mengejar mereka.

Hyomin berhenti di sebuah halte. Mengedarkan pandangannya, ia kehilangan jejak eommanya. Sebuah bus melaju dengan kencang dan tepat saat itu Nyonya Park berlari. Dan akhirnya—

*Brush!*

Nyonya Park tewas di tempat. Hyomin yang melihat kejadian itu mulai berteriak histeris memanggil eommanya. Sambil terus berlari menuju eommanya.

“EOMMA!!!!!” teriak Hyomin sejadinya.

Tak lama Nyonya Park mulai dimakamkan.

“Ayo pulang,” ajak Tuan Park.

“Shireo!” seru Hyomin sambil terus menangis. “Aku ingin di sini menemani eomma. Kalau aku pergi eomma akan kesepian.”

“Tapi ini sudah hampir malam,” balas Tuan Park.

“Sampai besok pun aku tetap tidak akan meninggalkan eomma sendirian.”

“Hyomin-ah. Eomma sudah tidak akan bisa hidup lagi.”

“Aku hanya ingin eomma memelukku. Hanya itu!”

Tuan Park mulai menarik Hyomin kemudian mengangkatnya. Hyomin memaksa untuk dilepaskan, tapi tenaga Tuan Park lebih kuat. Mereka pergi ke rumah Nyonya Park.

Hyomin membulatkan matanya, melihat ada banyak makanan di atas meja. Secarik kertas pun ia temukan kemudian ia baca. Kembali air matanya tumpah. Ia mulai jatuh bersimpuh kemudian memeluk surat itu.

Boram mulai memegang tanganku lagi.

^^

Hyomin terlihat sudah bisa menerima kejadian di mana eommanya meninggal. Entah ini ada di waktu kapan. Namun kulihat appanya mulai memberikan Hyomin seragam sekolah.

“Sebulan setelah kejadian eomma Hyomin meninggal.”

“Apa itu sekolah kita?” tanyaku saat kulihat Hyomin mulai masuk sekolah.

“Itu sekolahmu bukan sekolahku.” Boram tersenyum kemudian melanjutkan mengikuti Hyomin.

Hyomin mulai diantar appanya. Ia mengikuti pelajaran dengan baik setiap harinya. Dan kulihat wajahku saat itu, aku tengah berlari menghindar dari kejaran guru kemudian melompati pagar sekolah untuk kabur.

“Apa itu aku?” tanyaku pada Boram.

“Menurutmu?” tanya Boram.

Ini kejadian saat aku masih berada di kelas dua SMA. Aku ingat saat itu aku membolos pelajaran matematika. Aku pergi bersama Sungkyu tapi nasib buruk menimpa Sungkyu dia tertangkap petugas keamanan sekolah.

“Kembali focus pada Hyomin!” seru Boram.

Hyomin pun dijemput appanya. Mereka tidak naik bus, melainkan jalan kaki menuju rumah mereka. Seekor kucing sedang berjalan di tengah jalan, sepertinya dia terluka. Dan saat itu sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tuan Park berlari mencoba menyelamatkan kucing itu, dan Hyomin pun ikut mengejar appanya. Mobil itu menabrak Tuan Park dan membuat Tuan Park terpental jauh. Sedangkan Hyomin berlari menuju ayahnya namun nasib buruk menimpanya sebuah motor melaju dan membuat Hyomin tertabrak.

Pengendara mobil pergi tanpa mau bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Sedangkan pengendara motor itu berhenti, ia membuka helm yang sedari tadi ia pakai.

“Aku?” tanya Woohyun bingung. “Aku yang menabrak Hyomin?” tanyaku pada diriku sendiri.

Dan kulihat diriku melarikan diri, tanpa mau bertanggung jawab. Boram mulai memegang jemariku.

^^

“Aku yang menabrak Hyomin?” tanyaku pada diriku sendiri. Boram tidak juga menjawab pertanyaan yang sedari tadi kutanyakan. Ia hanya bungkam tanpa mau menjawab pertanyaanku.

Hyomin dan Tuan Park mengalami koma. Keduanya kritis. Dan saat itu kulihat arwah Hyomin keluar dari tubuhnya. Ia pergi ke sekolah dan menjalani kehidupannya di sana. Ia mulai membuat gantungan kunci berbentuk beruang yang biasa ia bagikan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada Boram.

^^

“Kau sudah melihatnya? Sekarang buka matamu!” seru Boram.

Kulihat aku kembali berada di taman, tempat awal pertemuanku bersama Boram. Sekarang aku menatapnya aneh.

“Kenapa kau menunjukkan siapa Park Hyomin padaku? Apa karena aku yang menabraknya hingga dia koma dan meninggal?” tanyaku bingung.

“Aku menunjukkan itu untuk melihatkan padamu, bahwa kau pernah berbuat salah padanya. Kau tahu kenapa dia memintamu menjadi orang pertama yang menerima gantungan itu? Karena setelah ini kau yang akan meninggalkan dunia ini.”

“Mwo? Apa maksud ucapanmu? Aku tidak mengerti!” seruku kesal.

“Woohyun-ssi, ada ucapan selamat tinggal untuk keluargamu?” tanya Boram padaku.

“Kau gila! Kau siapa? Kenapa kau yakin aku akan meninggal, huh?” tanyaku pada Boram dengan nada tinggi. Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia mengatakan hal aneh seperti itu?

“Aku malaikat kematian. Dan kematianmu sudah menjemputmu. Katakan padaku siapa yang akan menjadi target kematianmu selanjutnya?” tanya Boram yang tiba-tiba merubah dirinya dengan pakaian serba hitamnya.

Tubuhku terasa lemas dan lelah. Aku terjatuh dan mulai tertidur untuk selamanya.

-^^-

Advertisements

8 thoughts on “FF [ONESHOOT] – Angel of Death

  1. AtiQuesst says:

    astaga…
    jdi woohyun gitu yang nabrak hyomin tapi kenapa bisa dy tidak ingat kalau dy yang nbrak hyomin dan kenapa bisa juga dy tdak hyomin stelah sdar dri kclakaan truz dy jga tdak ingt.kalau dy kclakaan
    tapii tetap jha keren ff’a
    dan lagii aku kayaknya aku.redears bru d.ff nhy..naneun ati imnia,salam kenal buat smua athour dan reders di WP nhy.

  2. ana96 says:

    gak nyangka ternyata hyomin itu ktabrak sma woohyun. ini ceritax hyomin arwah gntayan ya?
    ternyata boram malaikat kmatian.a. kirain hyomin. haha
    lanjut look at my eyes dong…
    dtunggu ff lainnya..

  3. PJY29 says:

    Daebak!!! ganyangka kalo hyomin itu arwah.. boram malah ternyata malaikat kematian! emg ada malaikat kematian seimut boram ya?xixixi
    bagus deh, aku suka ceritanya hyomin ngebagiin gantungan kaya fuko ibukki di clannad ya thor?
    semangat thor! lanjut dong yg look at my eyes!!!

  4. Syn66 says:

    Boram jadi malaikat kematian? hahaha gak bisa ngebayangin deh, masa malaikat kematian bisa seimut dan semungil itu 😀 :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s