FF [Oneshoot] – Please, Not Again!

Poster ff please, not againAuthor          : Queenseu_

Tittle            : Please, Not Again

Genre            : Romance, sad

Rate              : Teen 15+

Length           : Oneshoot

Main Cast    : Kim Myungsoo / L (Infinite) – Park Jiyeon (T-ara)

Support Cast: Choi Minho (Shinee) – Jung Krystal (fx)f

Summary     : Aku, yang selalu menjadikan hujan sebagai puisi cinta… atau lagu mellow semerdu kicauan burung gereja… aku, yang percaya takdir Tuhan adalah jalan terbaik, yang tak bisa diingkari… aku, hanyalah gadis biasa yang selalu berharap bisa memiliki kisah cinta yang bahagia…

BE CAREFUL OF TYPOS!

~Happy Reading~

Please, Not Again!

Aku menatap langit yang tampak gelap itu, kulangkahkan kakiku, lalu aku berhenti dan mundur lagi. Aku urungkan niatku untuk menerobos hujan yang deras ini.  Aku memejamkan mataku cukup lama agar tak melihat kilat putih menakutkan itu. Tanpa berpikir panjang aku segera menutup telingaku… lalu ‘Grrrgzh!!’ Aku mundur beberapa langkah karena suara yang menggelegar itu, setelah kilat, pasti guruh, aku tahu itu.

“Eoh!” Aku hampir terjatuh karena ada batu di belakangku, tapi aku selamat, karena seseorang memegang bahuku, dan menahanku agar tidak terjatuh. Aku berbalik mencari tahu siapa yang menahanku.

“Oppa…” ucapku lirih menatap namja di hadapanku sekarang. Aku bingung, tegang, tapi senang. Tak tahu apa yang ingin kulakukan, pikiranku kosong, bahkan tubuhku seakan mati rasa.

“Jiyeon-ah,” panggilnya sambil tersenyum manis. Ahh!! Itu bahkan sangat manis. “Aku datang tepat waktu bukan? Sebelum kau mati, karena tersambar petir atau kepalamu terbentur batu itu!” seru Minho Oppa. Dia memang yang terbaik, dia selalu tahu kapan aku membutuhkannya.

Minho Oppa membuka tasnya lalu merogoh sesuatu. “Hah! Hanya satu! Hmm… gurae, kajja!” seru Minho Oppa memegang lenganku. Aku sedikit bingung dengan yang dikatakannya. Dia menarik lenganku agar keluar dari tempat teduhku di halte.

“Oppa…” panggilku. Aku terus menatap ke arahnya. Minho Oppa menggunakan payung miliknya untuk menutupi kami berdua.

Tiba-tiba pria itu mendekapku erat, lalu mendekatkan kepalaku ke dadanya. “Tak bisakah kau tetap di bawah payung ini? Jangan banyak bergerak, kau tahu kita hanya berdua, sementara hujan ini datang dengan berjuta pasukannya.” katanya sambil tertawa kecil. Aku ikut tertawa mendengar leluconnya. Kami terus berjalan kecil menyusuri jalan besar ini.

Oppa… Apa kau tahu? Rasanya aku ingin selamanya bumi ini turun hujan, akan kukalahkan semua rasa takutku pada kilat yang bersinar itu, petir yang menggelegar, atau pun mengerikannya suara hujan yang jatuh pada batu besar. Bersama denganmu, rasa takut itu mula-mula pupus, sirna, lalu pergi. Kau tahu mengapa? Kau adalah titik keberanianku, tapi juga titik kelemahanku. Oppa… Tak bisakah kau selalu di sisiku? Mendekapku, dan mengeratkan tanganmu pada kepalaku. Tuhan… Tak bisakah kau menghentikan lagu  cinta ini untukku, kuanggap hujan sebagai lagu itu. Kuingin selamanya bersama dengannya menyanyikan lagu cinta ini, pertemukan aku dengannya malam ini, lalu……

‘Brrrrsh!!’

Hujan itu menutup suara hatiku. Aku membalikkan tubuhku, itu hanya sekilas, aku masih tak mengerti! Aku perhatikan seseorang itu. “Oppa!!!!” jeritku keras. Aku berlari kearah Minho Oppa yang terbaring lemah. Aku  mendekap kepalanya di atas pangkuanku. Aku membelai kepalanya yang telah berlumuran banyak darah. Minho oppa membuka sedikit matanya.

“Oppa! Kau berdarah… Oppa… Ige mwoya? Tolong jangan lakukan ini! Kumohon, Jangan berikan penyesalan padaku, Oppa apa yang terjadi? Aku tak mengerti… ”

“Uljima jiyeon-ah… Dengar, aku tak meninggalkanmu… aku selalu berada di sisimu, memperhatikanmu sepanjang hari, dan menjagamu, arasseo?” Minho Oppa mengangkat tangannya yang kini berwarna merah dan perlahan menghapus air mataku.

“Shireo! Oppa!!! Tolong jangan tinggalkan aku seperti ini! Itu kalimat terakhir macam apa? Bangunlah, aku tahu kau akan selalu menjagaku, tapi bukan dengan cara ini! Oppa!! Jebal…”  seruku masih mengguncang tubuhnya.

“Saranghae Jiyeon-ah…  Saranghaeyo.” Minho Oppa menutup matanya lagi. Untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini untuk selamanya.

“Minho Oppa!!! Oppa… Ini bukan akhir cerita! Ini sama sekali bukan akhir yang bahagia! Kajima… Oppa kajima… Oppa!!! ” Air mataku terus mengalir bercampur dengan derasnya air hujan, si lagu cinta yang ikut bersedih atas kematiannya, orang yang kucinta.

Takkan pernah kubuat puisi cinta lagi, sekalipun hanya dalam hati kecilku, takkan kuulang peristiwa ini. Sekali saja. Hujan, jangan temani aku menangis, biarkan aku meneteskannya sendiri, meneteskan air mata ini sendiri, jangan kau berikan penyesalan yang lebih dalam untukku. Akan kubuang jauh lagu cinta itu, tak akan pernah ada lagi lagu cinta. Lagu cinta macam apa? Itu lagu pengiring kematian! Sungguh, hujan…

Teeet… Teeet… Klakson bus berbunyi, dan membangunkanku dari nostalgia masa laluku. Aku segera membuka payung kecilku dan berlari kecil menuju bus besar itu. Aku menyandarkan kepalaku pada jendela yang berembun di sampingku, aku terus merenung, ingin menangis rasanya, tapi air mata saja bahkan aku tak punya, semua air mataku sudah habis saat kematian cinta pertamaku dua minggu lalu itu.

***

“Jiyeon-ah! Awas!!” sahut seseorang. Tiba- tiba beberapa gumpalan kertas yang cukup besar datang menerpaku.  Aku hanya menunduk sambil meletakkan tanganku di depan kepala, untuk menghalangi kertas sialan itu.

Sudah hampir satu tahun kejadian tragis Minho Oppa itu berlalu. Kini, ternyata aku masih melanjutkan hidupku, walaupun aku pernah berharap untuk mati saja.

Aku memasuki kelasku pagi ini, berisik, kotor dan dengan murid- murid yang bodoh. Orang bilang kelasku ini ‘kelas sampah’, aku pun setuju dengan julukan itu.

Aku membuang nafas kasar, lalu segera duduk di bangkuku. Bagus! Semua orang tertawa pagi ini kecuali satu orang yang tadi memperingatiku, Kim Myungsoo. Sebuah kehormatan membuat kalian terbahak- bahak pagi- pagi, yang kuharap, setelah tertawa, kalian semua tersedak, lalu mati!

Pelajaran sebelum pulang dimulai. Bagi murid- murid bodoh di kelasku pasti sangat menegangkan karena ada ulangan dadakan.  Yah, Aku yakin akan begini, semua murid di kelasku melempar gumpalan kertas berisi jawaban. ‘Pluuk!’ sebuah kertas jatuh tepat di atas mejaku, aku tahu ini siasat, aku tahu mereka ingin mengerjaiku lagi, aku mengambil kertas itu dan berniat untuk mengembalikannya, tapi…

“Ini punyamu Park Jiyeon?” tanya Han Saem. Tapi aku hanya diam, aku tak peduli apa yang akan ia lakukan padaku. Sungguh aku tak suka membuang energy untuk mengelak hal semacam ini, karena ia pun tak akan percaya. “Ayo ikut ke ruangan saya!” seru saem galak itu. Songsaengnim berjalan keluar kelas. Aku berdiri, lalu berbalik menatap Krystal, orang yang melempar kertas itu.

“Mwo? Ada apa kau menatapku? Jangan menatapku seperti itu Jiyeon-ah!! Kubilang jangan menatapku seperti itu!” seru Krystal sebal.  Aku tahu dia merasa tersudut dengan tatapan tajam dariku.

“Aku hanya melihatmu… Wae? Mataku memang seperti ini,” ucapku datar lalu aku mengambil tas punggungku dan pergi meninggalkan Krystal keluar kelas.

“Kenapa kau menyontek? Kau kira kau bisa pintar dengan cara ini? Apakah selama ini nilaimu bagus dari hasil mencontek?” tanya Han Saem di ruangannya. Aku hanya diam, mengalihakan pandanganku pada sekeliling, mengamati perabot di ruangan ini. Aku sungguh membenci guru ini, dengan semua alasan yang ada, aku membencinya. Songsaengnim itu menghela nafas dalam-dalam. Mungkin dia lelah bertanya padaku. “Berdiri di depan ruangan ini, sambil menaikkan kedua tangan keatas tinggi- tinggi! Arraseo?!” seru Han Saem padaku. Aku mengangkat kepalaku, dan menatap Saemku itu.

“Saem, berapa lama?” tanyaku sinis.

“Sampai aku menyuruhmu berhenti.” ucapnya.

Huh! Ekspresi yang membuat aku ingin menjenggut rambutnya itu! Baik sekali ia sering memberi hukuman pada satu- satunya murid yang cerdas dalam kelasnya. Michyeosseo! Ia menyukai murid yang cantik, dan mempunyai derajat tinggi, tapi otaknya kosong. Aku memang tidak cantik, dengan penampilan yang—sungguh membosankan! Aku juga tak memiliki derajat, status sosial, atau apalah itu. Tapi aku lebih cerdas dari murid-murid bodoh kebanggaan songsaengnim.

Bel pulang sekolah berbunyi, sudah tiga puluh menit aku menjalani hukuman, aku menikmatinya, menikmati berdiri dengan kedua tangan di atas, di depan ruangan Han Saem. Walaupun jujur bahuku sangat pegal. Tiba- tiba Myungsoo berhenti di dekatku, menatapku, lalu masuk ke dalam ruangan Han Saem, sepertinya ingin menaruh kertas ulangan tadi. Tak ada suara gerak- geriknya untuk membuka pintu ruangan dari dalam, lama, lama sekali! Apa yang ia lakukan di dalam? Hah, aku sungguh penasaran. ‘Krekk!’ pintu itu terbuka perlahan, dan Han Saem keluar dari dalam.

“Selesai, kau boleh berhenti! Dan kembali ke kelasmu untuk pelajaran tambahanku nanti!” ucap Han Saem dengan tegas. Aku menurunkan kedua tanganku.

“Sebenarnya aku di jebak, tapi sekalipun aku mengatakannya padamu, kau akan tetap membela murid-murid itu.” kataku tajam sambil memutar lenganku pelan. Merelaksasikan tanganku yang sudah sukup lelah

“Jangan permainkan aku Jiyeon-ssi! Kau bisa mendapat hukuman yang lebih berat lagi!” serunya jengkel. Ya, aku tahu dia benar-benar bukan guru yang bisa diajak toleransi, atau santai sedikit. Sungguh kolot. Aku hanya mengangguk singkat, lalu pergi meninggalkannya.

Aku berhenti di pelataran sekolah, dan duduk di anak tangga di sekitar lapangan yang tidak jauh dari ruangan tadi, mengambil buku, dan bersiap membacanya. Seketika aku menoleh ke ruangan Han Saem, seorang laki- laki berdiri di tempatku tadi, Myungsoo. Rupanya ia ingin menolongku, pantas saja hukumanku tadi selesai. Mungkin saja, dia mengaku orang yang melempariku kertas, atau dia yang meminta jawaban dariku, atau dia di hukum karena kesalahannya sendiri. Siapa yang peduli? Aku berdiri dan mengambil tas di sampingku, lalu melangkah menuju gerbang belakang sekolah. Aku malas dengan pelajaran tambahan nanti, Han Saem yang mengajar. Aku melempar tas besarku keluar pagar belakang sekolah, lalu mulai kupanjat pagar itu.

***

“Jiyeon-ah, bagikan brosur café kita ini! Kau bisa membagikannya di taman. Banyak orang di sana!” seru managerku. Aku mengangguk mengerti, sambil mengambil kertas yang ia sodorkan padaku.

Ya, inilah kegiatanku sedari pulang sekolah. aku mengambil kerja paruh waktu di sebuah café yang tidak terlalu besar. Tentu saja untuk membiayai hidupku sendiri. “Jangan kembali sebelum kertas itu habis! Itu tidak banyak, Jadi, hwaiting!!” serunya lagi. Aku mengangguk untuk kedua kalinya. Dia memang berisik, cerewet, dan terkadang tegas juga. Walau sebenarnya dia orang yang baik. Aku keluar café itu dan berjalan ke arah taman yang tidak jauh dari tempatku berdiri.

Aku mengulurkan tanganku pada setiap orang yang melewatiku. Brosur ini memang sedikit, hanya ada beberapa puluh lembar, tapi aku baru berhasil memberikan sepuluh, padahal di sini ada banyak orang! Banyak sekali! Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat. Aku pun mengambil tempat di kursi tepat di depan air mancur.

Tiba- tiba seseorang mengambil brosur di tanganku yang masih terulur lemah. Aku menoleh cepat, lalu menemukan siapa orang lancing itu.

“Bagaimana kau bisa membagikan brosur ini tanpa berbicara? Kau harus meminta mereka untuk menerima kertas ini, tentu saja dengan sederetan kalimat promosi. Berikan padaku!” Myungsoo mencoba mengambil brosur itu, tapi aku dengan spontan langsung menarik tanganku. “Berikan padaku, aku ingin membantumu! Aku tahu kalau ini harus di habiskan. Karena tadi aku minum di café-mu, dan aku mendengarnya,” katanya. Ternyata dia namja yang secerewet manajer-ku. Aku berdiri lalu berjalan meninggalkannya, ia mengejarku dan langsung mengambil brosur di tanganku kemudian melangkah pergi.

“Aku tak membutuhkan bantuanmu!” ujarku. Ia menoleh sebentar, lalu pergi meninggalkanku. Aku duduk dan membiarkan ia menjadi asistenku, aku tidak rugi juga. Ia terus menawarkan brosur itu pada pengunjung yang datang.

Myungsoo berlari ke arahku yang masih terduduk memandang langit malam. Ia memberikan sisa brosur nya padaku, aku menoleh lalu mengambil brosur dari tangannya.

“Huh… Mian, aku tidak bisa mengahabiskannya, aku tidak bisa lebih lama lagi disini,” katanya sambil duduk di sampingku, sambil melihat jam tannya sebnetar. “Akan kau apakan brosur itu?” tanya Myungsoo. Aku berdiri dan berjalan meninggalkannya. “Hhh… Jiyeon-ssi aku baru saja duduk!” serunya, lalu berdiri mengikutiku.

Aku mendekati tumpukan sampah dan daun-daun kering dai dalam tong, yang tak jauh dari taman. Aku membuang brosur itu di atas tumpukan dedaunan, lalu mengambil pemantik dari dalam saku jaketku, dan membakar sisa brosur di tanganku bersama dengan daun- daun kering itu. Aku terus memandang api yang berkobar itu, begitu juga dengan Myungsoo.

“Kau membakarnya? Sungguh kau ini… Hah! Untuk apa kalau begitu aku membagikannya pada orang-orang tadi! Minta maaf padaku! Kau sama saja menyia-nyiakan bantuan dariku!” serunya dari belakangku. Ia berseru lucu seperti bocah saja. Aku tak memperdulikan ucapannya.  Lama-lama orang ini menjengkelkan juga. “Ya! Park Jiyeon! Minta maaf dulu!”  serunya lagi. Akhirnya aku menoleh ke arah pabbo namja itu.

“Aku tak menyuruhmu untuk membantuku bukan? Jadi untuk apa aku minta maaf atau berterima kasih padamu?” tanyaku kesal. Aku berbalik dan berjalan meninggalkannya.

“Tadi di sekolah aku sudah membantumu,” ucapannya membuatku menghentikan langkah tanpa melihat ke arahnya. “Tak masalah jika kau tidak berterima kasih padaku, tapi mengapa kau meninggalkan kelas tambahan?” tanya Myungsoo.

“Sungguh, apa itu urusanmu? Apa kau haru bertanya alasanku? Ah, benar-benar, apa kau ibuku? Cukup tutup saja mulutmu?” Dia benar-benar membuat mood-ku hancur. Benar-benar membuatku ingin menendangnya, atau berteriak tepat di telinganya.

Keadaan hening. Tak ada jawaban yang terlontar darinya. Baguslah, dia mulai mengerti maksudku. Aku mulai melangkahkan kakiku untuk kembali, “SARANGHAE!” seru Myungsoo. Aku berhenti mendengar ucapannya.

“Saranghae Park Jiyeon! Aku menyukaimu, sejak dulu!” Aku cukup tersentak. Kaget dengan kalimat yang diucapkannya dengan lantang, tentu saja.

‘Pabbo! Menyatakan cinta? Kim Myungsoo, sepertinya kau gila!’ Batinku, aku menggeleng pelan, menghembuskan nafas, lalu melangkah pergi menjauh dari tempat itu menuju café tempatku bekerja. Membiarkan orang itu dengan halusinasi-nya, dan mengembalikannya pada kenyataan semula. Kupikir dia sedikit gila, atau sedang mabuk, atau yang lainnya. Lelucon yang sama sekali tidak lucu.

***

Aku selesai bekerja malam ini, malam indah dengan banyak bintang yang mengelilingi bulan. Hari ini memang hari baik! Tentu saja, aku dijadikan pelayan café dan tak perlu menyebar brosur tak bermutu itu lagi. Aku membungkuk memberi hormat pada managerku karena aku ingin pulang. Menggenggam segelas hot chocholat, dan berjalan pulang yang cukup jauh dari tempatku bekerja.

Aku melangkah bahagia, membelah langit malam, memisahkan rasa sedih dan bahagia. Mengangkat tangan kiriku ke arah langit, sebelah sini, sedih! Buang, buang, buang! Pergi saja. Lalu aku mengangkat tangan kananku yang sedang memegang minuman ke arah langit. Baiklah! Datanglah padaku kebahagiaan… Akan kurayu agar kau mau menjadi milikku! Haha… Hah!! Dunia milikku!! Aku ingin sekali merasakan kebahagiaan itu setiap hari, setiap detik. Tapi kupikir itu tidak akan pernah terjadi. Kenangan bersama Minho oppa, senang, sedih, kecewa, selalu terbayang jelas di benakku. Dan hal itu membuat rasa bahagia itu hilang karena kutahu Minho oppa tidak disini lagi.

Tiba- tiba suara deru motor datang, terdengar jelas, dan lebih jelas lagi. Motor itu menuju ke arahku, lalu berhenti tepat di depanku. Aku ikut berhenti. Seseorang turun dari motor itu, dan melepas helmnya. Setelah aku melihat wajah orang itu, aku langsung menyamping melewati motornya, lalu melanjutkan perjalanan pulangku. Myungsoo turun dari motor besarnya, dan berjalan di belakangku.

“Biar aku antar pulang, ini sudah sangat larut! Kau bekerja lembur hari ini? Ayo naik ke motorku!” serunya. Aku terus berjalan tanpa memperdulikannya. Myungsoo menarik lenganku, tapi aku melepaskan genggamannya.

“Kau marah padaku? Apa salahnya jika aku jujur? Kenapa kau tidak memperdulikanku? Jawab aku dulu agar aku tahu perasaanmu, dan tidak membuatku mengejarmu terus! Mengapa kau tak membiarkan seseorang mengerti dirimu!” Myungsoo memegang bahuku, namun aku terus menyingkirkan tangannya. Karena aku tetap tak berbicara, ia menggenggam lenganku, dan menarikku menuju motor hitam besarnya.

“Aku akan mengantarmu pulang, aku tahu di mana rumahmu, jadi naiklah! Kali ini aku memaksa!” serunya kemudian melepaskan genggamannya. Aku pergi berbalik dan meninggalkannya. Ia benar-benar membuatku kesal dengan kelakuannya.

Myungsoo mengejarku, aku tahu dia pasti akan memaksaku lagi, aku segera berjalan cepat. Kali ini aku bingung dengan apa yang kurasakan, aku rasa aku tidak menyukainya, walaupun hati kecilku, ingin duduk di belakangnya, di jok motornya. Tapi aku yakin itu hanya perasaan biasa yang seharusnya kuabaikan. Aku sudah menetapkan kalau hatiku hanya milik satu orang. Minho oppa. Seseorang menarik lenganku kuat.

“Yaa! Kim Myungsoo!!…” ‘brukk’ Myungsoo menarik tubuhku ke arahnya, sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Ia sudah memelukku. Aku masih terkejut dengan situasi ini. Seketika wajah Minho Oppa langsung terbayang di benakku. Aku langsung memukul bahunya agar ia melepaskanku. Pelukannya melemah, akibat pukulan kerasku. Sejurus kemudian ia mendekapku lebih erat dari sebelumnya. Aku kesal atas perlakuannya, baru aku memanggil namanya yang kedua kali untuk mengomelinya, ia lebih dulu memanggil namaku, dengan suara yang berat, bernada lembut. Aku terdiam mendengarnya.

“Park Jiyeon… Haruskah kau lakukan ini padaku? Bisakah kau tidak bebohong pada perasaanmu untuk kali ini? Kau menipu dirimu sendiri, kumohon jangan menutup hatimu untukku, jangan melarang cinta yang datang padamu… Aku memang tidak perlu tahu apa penyebab pada hatimu. Tapi, kau sudah terlalu lama sendiri, aku memang belum bisa mengerti dirimu sepenuhnya, tapi kau tak pernah memberiku kesempatan untuk mengerti dirimu. Kumohon Jiyeon-ah jangan bohongi perasaanmu. Mungkin jika itu karena masa lalu, maka kenapa kau tidak membuangnya jauh dan hanya menjadikan itu sebagai kenangan saja?” ucap Myungsoo panjang lebar, dan masih mendekap tubuhku.

Malam terus menemaniku, langit mulai sepi seperti keadaaan salah satu sisi jalan yang aku pijaki saat ini. Aku yang masih menyerap semua perkataannya, hanya diam saja di dalam dekapan tubuhnya. Masih kupikirkan dialah orang pertama yang memelukku, Minho Oppa belum pernah memelukku seperti ini, karena aku baru mengetahui perasaannya tepat sebelum kematiannya.

Wajah Minho Oppa tiba-tiba terbayang lagi dalam pikiranku, kuingat kembali ucapan Myungsoo, ‘Mungkin jika itu karena masa lalu maka kenapa kau tidak membuangnya jauh dan hanya menjadikan itu sebagai kenangan saja?’ setelah mengerti makna dari kalimat itu, rasanya ingin kupukuli saja dia.  Benar, aku kesal sekali dan mulai memukuli bahunya.

Mungkin ia tak tega melihatku, lalu melepaskan pelukannya. Aku segera berlari meninggalkannya, sambil menitikkan air mata, aku tak tahu mengapa, perkataan itu membuatku kesal.  Aku terus membayangkan wajah Minho Oppa, sambil memutar ulang kejadian tragis kematiannya.  Mianhae Oppa, aku akan selalu menjaga perasaanku untukmu

***

Aku sudah membolos sekolah selama dua hari, aku malas bertemu dengan anak itu. ya, siapa lagi kalau bukan orang yang menyatakan perasaan bodohnya dua minggu lalu, dan berani menyuruhku melupakan Minho oppa, Kim myungsoo. Aku membereskan semua ruangan di rumahku, menyapu, mengepel lantai, sampai mencuci semua pakaianku. Aku teringat eomma, bagaimana kabarnya? Aku belum berhubungan dengannya hampir dua bulan ini.

‘Tok… Tok… Tok…’ Seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku melepaskan sarung tangan cuci piringku dan berjalan menuju pintu depan. ‘Kreekk’ saat kubuka pintu kayu itu, tak ada siapapun di depannya, aku terus memandang sekeliling, namun tak ada yang muncul juga. Aku menemukan kotak kecil yang tergeletak di lantai tepat di depan pintu. Aku mengambil kotak bergambar itu, dan menarik kertas di dekat pitanya.

Aku membuka kertas kecil itu yang bertuliskan ‘Haruskah kau membolos sekolah?’ Setelah membacanya aku tahu ini datang dari siapa. Aku berjalan keluar sambil memegang kotak hadiah dan menuju tempat sampah yang letaknya beberapa meter dari pintu rumahku.  Saat ingin aku membuang kotak sampah itu….

“Andwae! Jangan dibuang!!” sahut seseorang. Saat aku menoleh, Myungsoo melangkah ragu dari tempat persembunyiannya. “Jangan dibuang, itu bukan dariku… Itu dari eomma-mu… Hah! Aku tahu akan seperti ini, mengapa aku menaruh kertas kecil itu diatasnya? Pabboya!!” Myungsoo memukul kepalanya. Aku masih belum mengerti apa yang ia katakan, aku berjalan pelan mendekatinya.

“Wae gurae?” tanyaku singkat.

“Aku pernah bertemu eomma-mu dengan tidak sengaja, tentunya di suatu tempat. Saat aku mengobrol dengannya, ternyata sudah lama kau tidak bertemu dengannya. Ia menitipkan itu padaku setelah aku memberi tahu kalau di kelas dua kau sering membolos. Ia jadi prihatin dan—memberikan itu, di dalamnya juga ada surat dari Ibumu! Kau buka saja! Tapi, aku menambahkan surat yang di dekat pita merah itu!” jelas Myungsoo.

“Eomma….” Aku mendesah pelan, sambil menggengam erat hadiah dari Eomma-ku. Aku melihat ke arah Myungsoo. “Yasudah, sekarang kau boleh pergi!” seruku mengusir. Myungsoo berjalan membelakangiku.

“Chakkaman!” seketika Miyungsoo menghentikan langkahnya. “Gomawo….” seruku pelan. “Kali ini aku berterima kasih, Eomma-ku segalanya bagiku. Gomawoyo Myungsoo-ssi!” seruku lagi, kali ini diikuti dengan bungkukkan badan, walaupun sediki ragu. Myungsoo tersenyum dan mengangguk, lalu pergi.

Aku terduduk di lantai rumahku sambil memegang hadiah dari eomma. Aku menarik pita merah diatas kotak itu, lalu kubuka kotak itu. “Eomma…” Aku mengambil sebuah baju rajut dari dalamnya, lalu membaca surat darinya.

‘Jiyeon-ah… bagaimana kabarmu di Seoul? Kuharap kau selalu dalam keadaan baik. Jiyeon-ah, berhentilan memikirkan masa kelam itu. Aku tahu kau sangat mencintai namja itu, tapi percayalah, Tuhan selalu memberikan yang lebih baik padamu. Kau tidak boleh hidup seperti ini, menutup diri, dan bahkan melupakanku. Ah ya, aku bertemu temanmu di stasiun. Waktu itu aku sudah datang ke Seoul, tapi adikmu sakit, jadi aku harus kembali, dan tidak bisa menemuimu. Maafkan eomma-mu ini. Temanmu itu, dia namja yang baik, kuharap kau bisa berbuat baik juga padanya. Aku menitipkan ini padanya. Sebentar lagi sudah hampir musim dingin, gunakan baju rajut buatanku ini ya… belajarlah dengan giat, jangan membolos lagi, dan raih cita-citamu. Jangan kau sia-siakan beasiswa yang kau dapatkan… selalu sehat, dan jaga dirimu, maafkan aku belum bisa mengirimi-mu uang. Salam cinta, ibumu, Kim tae hee.’

“Eomma…. Bagaiman keadaanmu? Bagaimana keadaan yeodongsaeng-ku? Mianhae eomma, aku memang gadis yang buruk, sampai tega membuat eomma khawatir… Aku janji akan terus belajar dan menghubungimu,” seruku sambil memeluk baju rajut merah muda itu.

***

Kini terkadang aku berpikir tentang sosok Myungsoo. Aku masih memikirkan dia orang yang seperti apa. Selama ini aku anggap semua namja itu menyebalkan, hanya membuat sakit dan luka yang pedih. Ayahku yang menceraikan ibuku, dan Minho Oppa yang meninggalkan mati aku. Aku juga masih bingung dengan perasaanku pada Minho Oppa, aku menyukai, kutetapkan dia adalah pria yang kucinta selamanya walaupun ia sudah tidak ada. Tapi mengingat penderitaanku, aku membencinya. Ia meninggalkanku dan hanya mengucapkan satu kalimat bahwa ia mencintaiku. Apa dengan kalimat itu aku harus mencintai dia selamanya? Apa dia pikir aku akan baik-baik saja? Apa yang harus aku lakukan? Mengapa cinta sangat rumit?!

Sepintas aku mengingat ucapan Myungsoo malam itu, masa lalu hanya di jadikan kenangan saja. Aku terus merenung memikirkan kalimat itu. Apa maksudnya? Kenangan saja? Haruskah aku membuang masa lalu itu? Masa lalu bersama Minho Oppa memang menyakitkan, aku yang meyakini kalau cintaku saat itu hanya sepihak. Dulu aku juga menjauhinya karena larangan dari seorang sunbae yeoja. Saat aku dekat dengannya lagi, saat aku mengetahui perasaan ia yang sebenarnya, ia malah pergi meninggalkanku.

Sekarang aku sadar sudah hampir satu tahun aku terpuruk karenanya, aku hidup menyendiri tanpa cinta, bahkan karenanya aku tidak menghubungi Eomma-ku, aku rasa tanpa cinta aku bahagia… tapi, tidak tanpa Eomma-ku! Mengapa aku baru menyadari itu sekarang? Aku sudah menjadi seperti gadis tanpa nyawa selama hampir satu tahun. Bahkan aku tak pernah membiarkan cinta dari Ibuku masuk ke dalam hatiku! Sekarang, mungkin memang masa lalu itu harus aku jadikan sebagai kenangan saja. Tapi… bagaimana dengan perasaanku sekarang?

***

Akhir- akhir ini aku pulang bekerja lebih lama dan tidak seperti biasa. Aku bahagia karena semua senang atas kebangkitanku, teman- temanku, managerku, ataupun orang- orang yang kutemui. Kata mereka aku lebih sering tersenyum, dan itu membuatku lebih berwajah cerah dan tidak suntuk seperti biasanya. Hahaha…

‘Brrsh!!’ hujan turun tiba- tiba. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari ke halte yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ah, sial… Halte ini, halte dimana aku dan Minho Oppa… Huh! Jangan di pikirkan! Aku harus melupakan itu! Aku sudah berjanji untuk memulai hidupku yang baru. Sudah lama aku menghindari duduk dan menunggu bus di halte ini. Aku tak boleh menyiksa diriku untuk tidak naik bus selamanya, dan terus berjalan kaki. Tapi hari ini sepertinya aku tak bisa naik bus karena sudah terlalu malam.

Seseorang menarik lenganku, memutar balik tubuhku, aku memejamkan mata karena terkejut. Mwo? Seseorang memelukku! Tiba- tiba orang itu memelukku lebih erat saat bunyi guruh terdengar, aku juga lebih merapat ketubuhnya saat mendengar bunyi itu. Sungguh aku sangat takut. Minho oppa? Hanya ia yang tahu kalau aku takut bunyi ini. Apakah dia? Tapi itu mustahil, aku terus mencoba melupakannya beberapa hari ini. Minho Oppa… Haruskah kau datang padaku saat aku melupakanmu? Haruskah kau mengacaukan perasaanku padamu?

Orang itu melepaskan pelukannya padaku. Aku terkejut ketika melihatnyaa, “Myungsoo?” aku mengerjapkan mataku untuk mengetahui siapa dia. Benar saja, tak salah lagi. Myungsoo yang memelukku dan melindungiku dari cahaya kilat dan bunyi itu. Myungsoo, Kukira dia Minho Oppa… huhh!! Bagaimana bisa aku sejahat ini padanya? Bagaimana aku bisa mengahdirkan kembali Minho oppa dalam ingatanku? Bahkan berharap sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi.

“Kuharap tak ada lagi bunyi itu!” serunya sambil tersenyum ke arahku. Aku masih terdiam dan terus menatap wajahnya. “Ayo kita pulang, kajja!” serunya lalu menarikku. Aku menatapnya yang sedang membuka jaket kulit hitam mengkilat miliknya, dan menjadikannya sebagai tempat teduh kami saat berjalan.

Ia mendekap bahuku agar tetap berada di sampingnya dan tidak terkena air hujan.

“Pegang bagian ini ya!” serunya menyuruhku untuk memegang salah satu sisi pada jaket itu. aku menurut, dan segera melakukannya.

“Myungsoo-ya… Bagaimana kau tahu kalau aku… aku takut kilat dan guruh?” tanyaku ragu sambil terus menatapnya, aku tak berani menatap matanya secara langsung, jadi aku hanya menatap lehernya yang setinggi dengan kepalaku.

“Aku pernah mengatakannya kan bukan? Aku mencintaimu. Dan aku tidak main-main dengan kalimat itu. Aku mencari tahu semua tentang dirimu, aku sering melihatmu menjauhi jendela saat hujan atau petir datang… Aku mencari tahu semua itu… Yyak! nanti kau kehujanan!” jelas Myungsoo lalu menarik bahuku untuk lebih mendekat.. Aku menunduk lalu sedikit mengembangkan senyumku. Aku tak menyadari kalau ia sampai mencari tahu tentang diriku. Myungsoo-ah, gomawo.

Aku memang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Myungsoo, karena akhir-akhir ini, dia memang sering bersamaku. Walaupun aku masih bingung dengan persaanku sendiri. Aku mengeluarkan satu tanganku dari bawah teduhan jaket Myungsoo, menadahkan air hujan lalu mencipratkan ke wajah Myungsoo. “Hahaha… geundae, ayo kita hujan- hujanan!” seruku sambil tertawa, lalu keluar dari teduhan kecil itu.

Myungsoo mengelap wajahnya dengan tangan. “Neo…. Jiyeon-ah!!” serunya sambil tertawa, lalu menggenggam tanganku dan mencipratkan wajahku dengan air hujan. Malam ini… Indah sekali! Walaupun bintang dan bulan bersembunyi karena hujan. Aku senang, senang sekali, tidak tahu apa yang membuatku malam ini merasa begitu bahagia.

“Park Jiyeon…” Panggil Myungsoo lirih. Ia berjalan mendekati ku di tengah hujan. Myungsoo menatapku mataku lekat-lekat. Aku tidak tahu mengapa kini aku berani menatap matanya. “Biarkan aku melindungimu selama sisa hidupmu, biarkan aku yang menghapus air matamu jika terjatuh dari pelupuk matamu, biarkan aku yang menjauhkanmu dari bayangan kilat dan suara guruh jika hujan datang, kumohon, biarkan aku menjadi milikmu…” ucapnya. Myungsoo memegang bahuku dan mendekatkanku padanya. Ia mengangkat daguku, aku terus menatapnya tanpa henti. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, spontan saja aku memejamkan mataku, lalu ia menciumku lembut.

Apa yang membuatku terkejut, dan luluh atas ciuman ini? Apakah cinta datang seperti ini? Yang membuatku ragu, gugup, juga bahagia seperti malam ini?

Tangannya meraih tengkukku, mengelus pipiku lembut, lalu memperdalam ciumannya pada bibirku, sebelum akhirnya Myungsoo melepaskan ciumannya padaku. Jemarinya masih berada di pipiku. Perlahan aku mulai membuka mataku. Kulihat dia menatapku penuh arti, dengan senyuman lembut yang mengambang di wajah tampannya. Aku ikut tersenyum kearahnya, pipiku terasa panas, panas sekali. Ibu jarinya lalu mengusap bibirku perlahan, menghapus bekas ciumannya.

Aku menunduk malu, lalu tersenyum. Ciuman pertamaku, mengapa harus terjadi pada saat yang ku takutkan? Di tengah hujan. Ciuman pertamaku, mengapa harus dengan orang yang aku hiraukan? Kim Myungsoo, teman sekelasku. Ah… Aku rasa ini lucu sekali. Rasanya aku ingin sekali tertawa.

Aku menggigit bibirku. “Aku, aku pulang dulu… Kau, kau tidak perlu mengantarku! Tolong, jangan memaksaku untuk kali ini, Aku masih…” Aku bingung harus mengatakan apa padanya. Jujur, aku masih terkejut atas ciuman tadi.

“Ne, arrasseo… pulanglah. Hati-hati, jangan lupa mengganti bajumu,” serunya lembut.

Aku tersenyum, berbalik, lalu melangkah menyebrangi jalan, aku berjalan dengan perlahan, masih hujan gerimis, dan bajuku basah. Malam ini sepi, tak masalah bagiku jika santai saja. Aku masih memikirkan perasaan yang sebenarnya kurasakan pada Myungsoo. Kupikir aku harus cepat menjawab pertanyaannya. Apa yang kurasakan tuhan? Aku masih bimbang. Apakah rasa cinta itu benar- benar datang dengan sangat tiba- tiba? Atau aku yang tak menyadari kedatangannya? Mungkinkah aku benar terlalu menutup perasaanku sejak dulu, dan tidak mebiarkan cinta itu datang padaku? Apakah karena masa lalu itu aku jadi tak pernah menyadari cinta yang datang padaku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Ottokhae? Aku masih…

“Jiyeon-ah!!!” teriak seseorang dari belakangku. ‘Brukk!’ Aku terjatuh keras, kepalaku terbentur trotoar pinggir jalan, seseorang telah mendorongku. Aku memegang kepalaku. Berdarah! Apa yang terjadi sebenarnya? Aku bangun perlahan dari tempatku terbaring. Kepalaku pening, tubuhku terasa nyeri yang luar biasa. Tapi aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku melihat orang itu tergeletak di tengah jalan tempat aku menyebrang tadi.

“Myungsoo-ya? Kim Myungsoo!!” Aku berlari ke arah Myungsoo.  “Myungsoo-ya, ireona! Ireona! Jebal… ” Aku menadahkan kepala Myungsoo dalam dekapanku. Aku menggenggam telapak tangannya erat dengan kedua tanganku. Apakah ini harus kembali terulang? kematian tragis, di halte ini, saat hujan, malam gelap, haruskah menjadi yang kedua kalinya? Mengapa harus orang yang kucintai? Sekarang aku menyadari bahwa aku mencintainya. Mengapa air mataku bercampur dengan hujan lagi? Tuhan… ini bukanlah hal yang bagus untuk memulai kisah cintaku lagi setelah satu tahun lalu. Kumohon… Haruskah aku mengakhiri kisah cintaku seperti ini? Kenapa  aku harus mengalami ini?

Myungsoo mulai membuka matanya, lalu tersenyum. “Myungsoo-ya… Bertahanlah! Saranghae! Nado saranghae Myungsoo… Mianhaeyo, karena terlalu menutup hatiku. Baru kusadari sekarang, aku memang mencintaimu… Sangat mencintaimu…”

***

Kau tahu? Sekarang aku sedang berada di taman, bersama pria itu! Pria yang –kusadari aku mencintainya, ya Kim Myungsoo! Myungsoo sudah lebih baik karena orang yang menabraknya bertanggung jawab. Pada saat itu aku benar-benar merasa hancur, karena keadaan Myungsoo kritis, dan kehilangan banyak darah. Semalaman aku menangis dan berdoa, menemani ibunya di rumah sakit, menunggu operasi Myungsoo. Sampai dokter berkata keadaannya telah stabil. Sungguh aku sangat bersyukur, aku tahu Tuhan selalu memberikan jalan terbaik.

“Kim Myungsoo!!!” aku berseru keras memanggil pria yang resmi menjadi kekasihku itu. aku berlari kecil kearahnya sambil membawa dua cone es krim. Lalu berhenti tepat di sampan kursi rodanya. Ya, dia masih harus menjalani terapi untuk berjalan, jadi untuk sementara waktu dia menggunakan alat bantu ini.

Aku memberikan es krim di tanganku, satu untuknya. “Park Jiyeon… aku benar-benar bahagia kau disini untukku,” katanya, lalu menarik lenganku. Aku berjongkok tept di depannya, menyamakan tinggi dengannya.

“Aku akan selalu disisimu. Bukan hanya kau yang akan melindungiku, aku juga akan melakukan hal yang sama.” Aku menggenggam satu tangannya erat. Sementara tangannya yang lain membelai pipiku lembut, dan menyingkirkan rambutku kebelakang telinga. Gerakannya perlahan, lembut, dan aku suka.

“Aku mencintaimu…” Dia mencium keningku dalam, lalu sejurus kemudian, ia menunduk untuk mencium bibirku.  Menarik tengkukku mendekat ke wajahnya, dan memperdalam ciumannya.

Aku juga mencintaimu Kim Myungsoo, dengan seluruh cinta yang kumiliki, aku akan mencintaimu selama sisa hidupku. Percayalah aku akan melakukan itu untukmu. Dan aku membalas ciumannya.

–THE END –

SAENGIL CHUKKA HAMNIDA!! SAENGIL CHUKKA HAMNIDA!! SAENGIL CHUKKA URI JIYEONNIE! SAENGIL CHUKKA HAMNIDA!!!! Selamat ulang tahun buat author’s ultimate bias Park Jiyeon yang ke-23 (kalender korea)! Semoga sukses, dan bahagia selalu! Semoga nama baikmu dan T-ara bisa terangkat lagi! Bisa jadi Queen of chart lagi! Aamiin!!! Semoga bisa taken beneran sama Myungsoo, jadi bukan cuma dalam imajinasi author aja! Wkwkwkwk…. Setuju kan ya?

Oke!!! FF special Jiyeon’s Birthday yang aku janjiin udah rilis!!!! Gimana ff oneshoot-nya? Sebenernya aku udah bikin ff ini dari lamaaa banget. sekarang cuma di remake dikit, soalnya bahasanya masih berantakan. Sekarang masih berantakan juga? Maklumin aja ya!wkwk.. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian dan like nya!!! Oh iya, sekalian bantuin author deh, berhubung dapet pahala juga kan, buat promosiin WP ini biar lebih dikenal… Author bener-bener terima kasih loh buat kalian yang bersedia share wp/ff disini atau promosi via apapun;))) hehehe GOMAWO!

Advertisements

23 thoughts on “FF [Oneshoot] – Please, Not Again!

  1. dyah babydino says:

    sukurr banget nasib myungsoo gak ky minho,kl ia jiyeon bisa nyesel bangett 🙂
    met ultah aja buatt urri jiyi 🙂

  2. chacha says:

    Ya Tuhan moments myungyeon bener2 sweet ❤
    Myungsoo daebak, nggak nyerah gitu aja. Akhirnya jiyeon bisa merasakan kebahagiaan cinta…
    Gomawo buat ff specialnya…

  3. djeany says:

    duh bahaya banget ya,nyebrang jalan sambil melamun,mana hujan lagi.kan mobil biasanya gak stabil,apalagi pas dikira sepi pasti ngebut..untuk doanya buat t ara amiin..

  4. Isti says:

    ga ngerti kenapa minho bisa ketabrak kae gitu hehe awalnya aku kirain ini bakalan jadi cinta segi 4 ternyata engga kekeke
    haha untungnya myungsoo ga nyerah ya buat dapetin jiyeon 😀
    anyway asli pas myungsoo ketabrak itu itu pasti sedih banget buat jiyeon dan bikin dia throwback lagi ke masa dimana minho yg ada diposisi itu 😥 hwaaaa untung aja myungsoo nya selamat bisa disembuhin 😀 hehe
    aaaa suka ending nya :’) suka juga ceritanya 😀

  5. heol~ says:

    masih belum ngeh minho mati kenapa lol tapi untuk keseluruhan ceritanya keren gak terlalu cepat atau lambat untuk penggambaran jiyeon menerima myungsoo untuk oneshot ini benar benar keren gak gantung hihi sweet bgt pula tapi nyesek ending nya myung lumpuh tapi myungyeon tetep bersatu.. jjang

  6. Myungsoo bner” pantang menyerah ya buat dpetin cintanya jiyeon.. Wktu myungsoo nyelametin jiyeon itu aq pkir myungsoo bkalan bklan kyk minho gtu,, tpi syukurlah enggk, aq suka endnya myungyeon brsama juga.. Dtunggu ff lainnya ya ^^

  7. nanda says:

    q ska bgt dgn crt’y…myung sweetz biz dy bnr” mncntai jiyi mpe rla mlkukn hal yg mbwt jiyi bsa sdr n brpling dr minho…hehe
    mga ksh cnta myungyeon kan bhgia u/ slm’y…
    😉

  8. Myungie says:

    Aku suka banget ceritanya!
    Myungsoo bener” buat hati meleleh dengan kata”nya.
    Myungsoo rela ngelakuin apa aja buat jiyeon. agar jiyeon bisa ngelupain masa lalunya, dan myungsoo juga rela ngorbanin nyawanya demi jiyeon. Aigoo so sweet banget myungsoo~~
    tadinya aku kira myungsoo bakal mati juga kya minho, tapi syukurlah Tuhan masih sayang sama dia, dan akhirnya MyungYeon bisa bersatu juga 🙂

  9. MyungLy :* says:

    Anyeong,, aku readers baru disini,, boleh kah aku gabung d wp ini,,hehe cz aku salah satu myungyeon shipper,, salam kenal,, 🙂

  10. Jiyeon terlalu menutup hatix mangkax dia ngak sadar kalau selama ini ada yg mencintai dia juga ..
    Huh deg2an karna aku pikir ini bakalan sad ending eh taux ngak yah 😊
    Ciyee jiyi dan myung udah jadi kekasih dan emm makin nepel.. semoga kalian slalu seperti itu yah ☺

  11. keren banget FFnya Thor, aku kira bakalan sad ending gak taunya happy ending.. (senangnya dalam hati) AlaAhmadDhani #plak
    Oh iya thor, kenalin aku new reader disini.. Hehehe..
    Amin Thor, semoga MyungYeon real dan nama baik T-ara bisa terangkat lagi.. 🙂 ❤ Fighting

  12. Ff Lover says:

    MyungYeon jjang!! 😊😊
    Ff’nya keren thor, oneshoot tp membekas 😆
    Suka bgt sama karakter Myungsoo yg gentle gitu, aihhh Myungsoo 😍😍😍
    Happy Ending~ 😁😁😁
    Eh iya btw aku new reader disini ☺☺
    Izin baca dan ubek” yaa~ 🙂
    Anyway, aku bkan Inspirit, Queens, atau Queenspirit, bkan jiyeon holic atau jga elements *bner gak? ✌✌
    Aku cuma ELF yg juga ff lovers 😆😆
    Salken semua~~
    MyungYeon hwaiting!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s